Selasa, 10 September 2019


TEKS  MONOLOG TEATER

IBU TERCINTA
Nyanyi ibu
Rasa ini selalu sama untumu ibu, semua cinta serta ketulusan. Hal-hal yang tidak akan pernah tampak sederhana bagiku, tetapi engkau tulus dan menganggap bahwa semua sesederhana yang kau lihat. Senja  merona yang berada di ujung barat selalu menjadi milik kita, untuk bisa mengenapkan waktu menuju malam penuh harmoni. Bukankah begitu bu? Seperti itulah kau untukku, kau senja yang hanya untukku.

Yang selalu menjadi kebahagiaanku. Fajar yang ada di ujung timur juga selalu jadi milik kita kan Ibu? Untuk menerbitkan sinar setelah gelapnya malam yang diselimuti kabut kedamaian.

Selalu itu yang engkau katakan padaku, bahwa selalu ada harapan untuk semua aspek dalam kehidupan ini. Engkaulah yang menerbitkan sinar saat duniaku gelap.

Fajar itu selalu memberikan kehangatan, seperti hangatnya secangkir kopi di pagi hari, kau ingat kan itu bu? Kita selalu menikmati kebersamaan dengan tawa, menyeruput kopi itu sampai tetes terakhir. Mengapa demikian Ibu?

Mengapa semua itu terasa indah saat bersamamu? Kau tahu Ibu, bahwa ini lebih suka duduk di sampingmu dan menceritakan semua hal tentang apapun itu. Bagiku, hal ini lebih menenangkan daripada aku mendengarkan alunan musik instrument favoritku.

Sudah kuduga dari dulu, bahwa engkau bukan wanita biasa. Lihatlah aku sekarang bu, aku yang setiap harinya selalu bersamamu, sampai detik pun masih mengagumimu. Berapa kata yang hendak kugunakan untuk mengungkapkan semua rasa kagumku terhadapmu? Seribu? Satu juta? Itu semua tidak akan pernah.

IBu, anakmu ini ingin sekali menjadi yang terbaik di hidupmu. Ibu, anakmu ini ingin sekali menjadi yang engkau banggakan. IBu, aku anakmu ini ingin sekali ada disampingmu untuk selamanya.
 Indahnya masa kecil bersamamu, darah yang mengalir kau berjuang melahirkanku, ibu begitu berat pengorbananmu  untuk anakmu, rindu ayah dan ibu, ungkapan terdalam dari hati yang tulus, do’a yang ku ucap selalu, semoga allah memberikan kebahagiaan, tangisku kala malam mengingat engkau, amanah yang kau beri, air mataku tumpah menyentuh kalbu. Ayah, ingat saat kecilku aku setia menunggumu di depan pintu, ibu, kau memaafkan aku sesering aku melukai hatimu, ayah aku rindu nasihatmu, ibu, aku ingin memelukmu, datanglah di mimpiku, oh ayah dan ibu, biar waktu berganti, hati ini selalu rindu. Kau menjagaku, menuntunku, membelaiku, mengajariku arti hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LATIHAN SOAL TRY OUT

Indikator :   Menunjukkan bukti dari simpulan 1.       Cermatilah paragraf berikut dengan seksama!         (1) Baik secara kelompok ...